Peran Bahasa Dalam Membentuk Karakter Anak

7:54 PM Imam Taqyudin 0 Comments


Peran Bahasa Dalam Membentuk Karakter Anak
Oleh: Imam Taqyudin

PENDAHULUAN
Bahasa merupakan sistem lambang bunyi yang digunakan oleh suatu komunitas untuk berkomunikasi. Bahasa juga dapat menyampaikan pesan sosial tertentu bagi para pemakainya disamping menjelaskan akal budi penuturnya. Dengan pemakaian bahasa yang santun dan didasari dengan etika yang luhur maka bahasa diharapkan dapat mempengaruhi watak dan karakter seseorang.
Watak dan karakter seseorang memang tidak selalu berbanding lurus dengan bahasa yang digunakannya, namun ada beberapa kasus dimana bahasa dapat memacu temperamen dan emosi seseorang, khususnya bagi anak-anak yang pada dasarnya ingin meniru apa yang dilakukan dan diucapkan oleh orang dewasa yang menjadi idola atau panutannya. Jika seorang dewasa atau idola berbicara dengan menggunakan bahasa yang kasar atau kotor, maka seorang anak serta merta mengikutinya meskipun hal itu adalah sesuatu yang tabu.
            Perkataan dalam suatu bahasa tertentu yang awalnya dianggap tabu dan kotor akan menjadi sesuatu hal yang wajar jika seringkali diucapkan, terlebih jika banyak orang yang mengucapkannya dan tidak ada seorangpun yang memperingatkan kekeliruan tersebut bahkan mengikuti dan mengiyakannya. Mungkin bagi orang dewasa perkataan tersebut mempunyai dampak insidental, namun jika dikatakan oleh seorang anak, maka akan berdampak secara psikologis dan dapat mempengaruhi karakter dan kepribadiannya.
            Dewasa ini penggunaan bahasa yang santun dan beretika telah mengalami penggerusan secara sistematis, hal ini disebabkan oleh banyak faktor, antara lain lingkungan pergaulan, keluarga, sekolah, televisi, dan internet. Bahkan di lingkungan sekolah yang bertujuan utama untuk mendidik dan membentuk karakter yang baik dan terpuji bisa menjadi sumber pengetahuan anak dalam mempelajari bahasa-bahasa yang tabu dan kotor untuk diucapkan.
PENDIDIKAN KARAKTER
            Pendidikan karakter di lingkungan sekolah pada umumnya baru menyentuh pada tataran pengenalan norma atau nilai-nilai dan belum pada tingkatan internalisasi dan realitas sehari-hari. Sehingga dalam kenyataan yang terjadi saat ini banyak peristiwa yang mengecewakan dan semakin banyak kasus yang menunjukkan karakter negatif dari anak-anak didik. Hal ini bisa disebabkan prosentase pendidikan karakter yang teramat minim, terutama pendidikan agama dan kewarganegaraan yang semakin dikurangi. Disamping itu siswa menganggap bahwa pendidikan karakter di sekolah adalah sekedar wacana dan ilmu pengetahuan yang tidak harus diaplikasikan dalam kegiatan sehari-hari.
            Diantara kasus yang terjadi adalah munculnya karakter negatif siswa yang disebabkan pengaruh bahasa-bahasa negatif yang dipergunakan dalam komunikasi sehari-hari. Bahasa-bahasa negatif yang tidak layak untuk digunakan oleh seorang siswa dewasa ini semakin sering diucapkan siswa. Tentunya mereka tidak mungkin mengarang sendiri kosakata-kosakata tersebut. Hal ini akibat pergaulan lingkungan sekitar mereka. Terutama lingkungan masyarakat, orang-orang dewasa, televisi, dan lain sebagainya. 
            Misalnya adalah penggunaan kata-kata (maaf) jancuk yang dalam bahasa Jawa merupakan kata-kata yang tabu bila diucapkan, menjadi suatu ucapan yang biasa, meskipun kata-kata tersebut tidak terdapat hubungan yang linier antara ucapan dan maknanya. Contoh lain adalah kata-kata (maaf) anjing yang merupakan upaya seorang pembicara untuk menyamakan lawan bicara dengan seekor binatang yang tentunya juga tidak ada hubungan antara sifat manusia dengan sifat hewan. 
            Dengan seringnya seorang anak mengucapkan kata-kata negatif, maka secara perlahan bahasa membentuk karakter anak yang temperamen dan emosional. Ini seringkali dijumpai ketika anak mulai mengeluarkan kata-kata tersebut, bisa dipastikan tingkat emosinya sedang mengalami peningkatan. Semakin sering ia mengatakan kata-kata tersebut semakin sering pula ia marah dan emosional.
            Disamping membentuk karakter negatif bahasa juga sangat berperan dalam membentuk karakter positif anak. Jika lingkungan kondusif dan cenderung memakai bahasa yang positif, secara tidak langsung akan membentuk karakter positif anak. Hal ini merupakan bukti bahwa karakter anak juga dipegeruhi oleh bahasa yang digunakan oleh lingkungan tempat tinggalnya.
PENGGUNAAN BAHASA
            Bahasa umumnya bersifat arbiter yang berarti tidak ada hubungan wajib antara satuan-satuan bahasa dengan yang dilambangkannya. Dan tidak berusaha menjawab mengapa sesuatu hal dikatakan demikian oleh suatu komunitas sosial tertentu dan bermakna berbeda bagi komunitas lain (Kentjono, 1990:3). Namun ada juga yang tidak bersifat arbiter meskipun jumlahnya sangat terbatas, seperti gemericing, gemericik, kokok, dan sebagainya.
            Sebagian orang tidak terlalu mempermasalahkan hubungan antara bunyi dan makna suatu bahasa, hal ini bisa disebabkan khasanah dan perbendaharaan bahasa yang dimiliki. Sebaliknya jika seseorang seringkali berkecimpung dengan bahasa maka dia akan memikirkan dengan seksama pemilihan kata dan penggunaan bahasa yang berhubungan dengan maknanya.
            Pemilihan kata-kata yang sesuai dengan konteks situasi dan keadaan akan memberikan dampak yang signifikan bagi lawan bicara. Kata-kata yang seharusnya hanya pantas diucapkan kepada orang dewasa hendaknya tidak diucapkan kepada anak-anak, karena dapat melanggar aturan-aturan sosial kebahasaan dan mengakibatkan terjadinya proses pembelajaran negatif yang bersifat non formal.
            Seyogyanya orang dewasa terutama yang berpendidikan harus memahami aturan-aturan sosial bahasa. Mereka harus mengetahui kapan, dimana, tentang apa, dan dengan siapa mereka berbicara, misalnya: seorang mahasiswa, dia akan berbicara sesuai dengan kapasitasnya sebagai mahasiswa, berbahasa indonesia yang baik, teratur, sistematis dan lugas ketika dia bergaul di lingkungan kampus. Namun, ketika berada di lingkungannya dia akan berbicara dengan menggunakan bahasa gaul untuk menyesuaikan diri.
            Contoh lain : seorang ayah yang bekerja di suatu kantor, kesehariannya menggunakan bahasa formal untuk membedakan tingkat jabatan antara atasan dan bawahan, meskipun bawahannya misalnya lebih tua daripadanya. Tetapi, ketika sampai di rumah dia akan menggunakan bahasa non fomal dan lembut terhadap anak-anaknya meskipun dia memiliki jabatan yang tinggi di kantornya.
            Penggunaan bahasa yang lembut dan santun akan membentuk kepribadian anak yang sopan dan hormat kepada yang tua. Penggunaan bahasa yang baik dan sesuai dengan anak akan menumbuhkan sikap-sikap terpuji dan melatih anak untuk dapat mengendalikan emosi dan kesabaran. Sebaliknya dengan bahasa yang kasar secara tidak langsung mengajarkan anak untuk bersikap emosional, temperamental, keras, dan merangsang tindakan-tindakan kekerasan.
            Di beberapa daerah yang mempunyai bahasa dan logat keras berimplikasi pada penggunaan bahasa yang kasar dan meledak-ledak sangat berpotensi membentuk karakter-karakter keras dan temperamen pada generasi-generasi mudanya. Semisal Makassar, daerah yang terkenal keras dan kasar dalam penggunaan bahasa sehari-harinya berimbas pada munculnya kakarakter-karakter keras yang tidak kenal kompromi, hal ini seringkali kita lihat di media elektronik maupun media massa.
            Sebaliknya jika kita amati daerah yogyakarta dengan adat dan kejawaannya yang kental, bahasa yang digunakan cenderung santun dan lembut. Dan implikasinya adalah kesantunan dan kelembutan seringkali ditonjolkan oleh masayarakat daerah tersebut. Sehingga membetuk karakter generasi muda yang sopan dan lembut.
            Contoh lain kota Solo misalnya, bahasa yang mereka tunjukkan sangat lemah gemulai, santun dan bersahaja sehingga terbawa pada karakter mereka sehari-hari yang penuh kesantunan dan kesopanan. Demikian juga dengan bahasa yang lembut ini mempengaruhi karakter generasi muda mereka yang kalem dan penuh kesantunan.
            Kedua perbedaan tersebut (antara logat keras dan lembut) tidak dapat digeneralisasi, hanya dianalisis secara umum dan sesuai dengan kenyataan yang terjadi. Bahasa yang keras memang belum tentu membentuk karakter anak yang keras dan temperamen. Demikian juga bahasa yang lembut tidak sepenuhnya akan menjadikan karakter anak lembut dan santun.
BAHASA KELUARGA DAN KARAKTER ANAK
            Bahasa yang digunakan dalam keseharian anak banyak meniru dari  lingkungan keluarga dan masyarakat. Untuk itu orang tua harus mampu berkomunikasi dengan bahasa yang proporsional didepan anak-anak mereka. Mereka harus menyadari apapun perkataan yang dilontarkan dari mulut mereka akan direkam oleh anak dan suatu saat akan dipergunakannya.
            Komunikasi antar anggota keluarga terutama antara ibu dan ayah harus ditata sedemikian rupa. Mulai dari pemakaian bahasa yang tepat dan cenderung lembut, pengurangan tekanan tinggi dalam intonasi bahasa, dan kesopanan serta kesantunan dalam pengucapan. Demikian juga jika sedang terjadi konflik antar ibu dan ayah, hendaknya tidak dilakukan didepan anak, karena secara tidak sengaja orang tua akan menggunakan bahasa yang cenderung keras dan meledak-ledak.
            Dengan mengimplementasikan tata cara berkomunikasi dan berbahasa seperti yang telah dijelaskan diatas, akan menimbulkan efek yang positif bagi anak-anak. Anak tertua akan mengajarkan kepada adik-adiknya tata cara berbahasa yang baik dan santun, karena mereka belajar dari kedua orangtuanya hingga seterusnya pada anak terkecil akan terbiasa berkomunikasi dengan santun dan sopan.
             Dengan terbiasa berbahasa yang lembut dan santun akan berimplikasi terhadap pembentukan karakter anak. Keluarga yang terbiasa berkomunikasi dengan santun umumnya memiliki karakter yang baik. Kedisiplinan orang tua dalam penyusunan kata-kata dan pemakaian kalimat yang teratur mempunyai peran yang signifikan dalam pembentukan karakter anak. Hal ini bisa buktikan dengan mengambil sampel masyarakat di sekitar atau tetangga kanan kiri.
            Jika pada pagi hari terdengar teriakan seorang ibu yang membangunkan anaknya dengan kata-kata kasar atau seringkali memakai nama-nama hewan, maka dipastikan anak akan menyahut tidak jauh dari apa yang dikatakan sang ibu. Misalnya, ibu mengatakan “ayo bangun jangan molor terus seperti kerbau!”, maka anak kan menjawab “iya bu kerbau sebentar lagi, masih pagi ni”!. Contoh komunikasi seperti ini akan mempengaruhi karakter posistif anak yang selanjutnya akan cenderung negatif. Lain halnya dengan komunikasi yang dilakukan oleh keluarga berikut,”nak adzan subuh sudah terdengar, ayo berangkat ke masjid!” kata si ibu. “iya bu saya wudhu dulu sebentar”. Jawab sang anak. Kelembutan dan kesantunan komunikasi yang dilakukan oleh sang ibu melunakkan hati sang anak, sehingga karakter positif yang ada pada anak akan semakin baik dan kelak membentuk karakter yang sabar, ikhlas dan santun.
PENUTUP
Karakter merupakan suatu hal yang bisa digunakan sebagai ciri untuk mengenali seseorang. Karakter mengisyaratkan suatu norma tingkah laku tertentu, dimana seorang individu akan dinilai perbuatannya. Dengan kata lain, karakter merupakan kepribadian yang dievaluasi secara normatif. Sebagai contoh, karakter pemurah hati, penolong; atau bisa pula sebaliknya, karakter pencuri, pembohong, koruptor, dan lain-lain (Seto Mulyadi).
Sedangkan metode pembentukan karakter anak bisa muncul dalam bentuk apa saja, baik melalui bahasa, hiburan, pikiran, sulap, film, kejahatan, dan sebagainya. Memang ada metode pembentukan karakter formal yang umumnya ditemui di sekolah-sekolah dalam bentuk pembelajaran agama atau PPKN. tetapi hal itu memiliki pengaruh yang kurang signifikan terhadap anak, karena porsinya yang sedikit dan kurang memenuhi sasaran, juga oleh anak dianggap sebagai pelajaran atau wacana pengetahuan saja.
Kemudian metode apa yang sangat berperan dalam membentuk karakter positif anak. Salah satunya adalah bahasa, penggunaan bahasa yang tepat, santun, lembut dan sopan, disengaja ataupun tidak,  akan mempengaruhi mental dan watak si anak. Begitu juga sebaliknya.
Bahasa sendiri merupakan sesuatu yang selalu digunakan manusia untuk berkomunikasi dengan orang lain yang berwujud suatu kode atau sistem simbol dan urutan kata-kata yang diterima secara konvensional untuk menyampaikan konsep-konsep atau ide-ide dalam berkomunikasi. Bahasa sebagai alat komunikasi juga memiliki karakteristik; bahasa mempunyai kata-kata (words), urutan kata-kata dalam bahasa tersebut merupakan karakteristik yang dikehendaki, bahasa adalah suatu alat yang produktif dan kreatif, bahasa menyampaikan informasi tentang suatu tempat dan waktu yang lain, dan bahasa juga memiliki grammar (tata bahasa).
            Dengan pemakaian bahasa yang kreatif, sistematis, proporsional, sesuai situasi dan kondisi, terutama pada kondisi ketika berhadapan dengan anak akan berimplikasi terhadap pembentukan karakter anak. Hal ini dapat terjadi, baik disengaja maupun tidak. Anak merupakan media imitasi dari orangtua dan lingkungan, jika orangtua terbiasa menggunakan bahasa yang santun dan ditunjang dengan lingkungan yang senantiasa berkomukasi dengan bahasa sopan, maka anak akan meniru apa yang dilakukan. Hal tersebut tentunya berimplikasi pada karakter anak. Keluarga dan lingkungan baik, karakter yang muncul pada anak tentu adalah karakter positif, sebaliknya jika keluarga dan lingkungan kurang baik, akan terbentuk karakter anak yang negatif.
            Yang  perlu digarisbawahi adalah peranan bahasa pada pembentukan karakter anak adalah sesuatu yang nyata dan terjadi di masyarakat Indonesia. Dan tidak bisa dipungkiri baik secara langsung ataupun tidak langsung bahasa akan mempengaruhi karakter anak yang sedang tumbuh dan berkembang. Jika bahasa yang digunakan penuh dengan muatan positif, maka akan memacu timbulnya karakter-karakter positif anak bangsa. Bahasa dengan muatan negatif akan menghancurkan perjalanan watak dan karakter anak. Anak merupakan aset bangsa yang tak ternilai harganya, bahasa sebagai identitas bangsa harus digunakan sesuai dengan cita-cita luhur bangsa Indonesia yakni mencerdaskan generasi penerus. Dengan penggunaan bahasa yang mencerminkan karakter bangsa yang sesuai dengan adat ketimuran Indonesia, berarti ikut berpartisipasi dalam membentuk generasi penerus yang berakhlaq mulia, berbudi pekerti yang luhur, dan beriman serta bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

You Might Also Like

0 komentar:

Mau Tukar Link? Copy/paste code HTML berikut ke blog anda

Teknologi,sastra, religius,tips trik