TRANSLATE

Search

Memuat...

13 April 2013

Perkembangan Sastra Arab di Masa Nabi Muhammad SAW

Islam telah menggoreskan sejarah perubahan yang menyeluruh pada sistem kehidupan manusia, baik dari segi spiritual, sosial, politik maupun sastra dan budaya. Perubahan tersebut tidak hanya terbatas bagi bangsa Arab saja, namun mencakup seluruh bangsa yang tersentuh oleh dakwah Islam, sehingga bangsa tersebut tersinari oleh cahaya dan keutamaan iman.

Ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW sendiri lahir pada suatu lingkungan yang memiliki budaya dan nilai tertentu, maka benturan islam terhadap nilai-nilai tersebut pun tak dapat terelakkan, sehingga islam datang untuk membatalkan seluruh nilai yang tidak sesuai ajarannya yang tinggi namun tetap mempertahankan hal-hal yang sejalan dengannya.

Sastra Pada periode ini dengan jelas menggambarkan kepada kita tentang kehidupan masyarakat islam yang bergitu gemilang jauh dari kekacauan, sebuah lembaran sejarah yang paling indah, kita baca baris-barisnya yang akan menghembuskan aroma keikhlasan, memperlihatkan cahaya tauhid dan menampakkan sebuah semangat yang mampu merontokkan gunung, dan menundukkan berbagai macam kesulitan. Lembaran sejarah itu telah ditulis dengan darah para syuhada yang kelak pada hari kiamat akan menebarkan bau wangi bak minyak misik, baris-baris mutiara itu ditulis oleh tangan-tangan yang suci dan hati yang sehat nan tulus. sebuah masa dimana kehidupan begitu tenteram dikarenakan keimanan yang ada pada hati-hati mereka. Pada periode ini sastra pun berkembang sesuai dengan ruh keislaman.

Maka makalah ini akan membahas tentang perkembangan sejarah sastra Arab di masa Rasulullah SAW dan para Khalifah. Yaitu, Abu bakar As-shidiq, Umar bin Khatab, Usman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib.

KEMENANGAN DIALEK QURAISY
Suku yaman merupakan suku besar dan terkemuka yang berada di negeri yaman (habsyah), mereka memiliki kecerdasan dan kemampuan bersosialisasi yang baik dalam bidang perdagangan dan diplomasi. Sebelum suku-suku lain memiliki hubungan dengan banyak suku di jazirah arab, suku yaman telah memiliki hubungan dagang yang baik dengan mesir dan daerah lain.
Sedangkan suku adnan adalah suku besar dan terkemuka di wilayah mekkah, mereka merupakan penguasa jalur dan daerah sekitar mekkah baik di bidang perekonomian, kesusastraan dan bahasa. Suku adnan ini merupakan cikal bakal ataupun nenek moyang rosulullah yang menguasai air zam zam di wilayah mekkah.
Suku yaman memiliki hubungan perdagangan yang luas dan mempunyai akses ke beberapa daerah diantaranya mesir yang pada masa itu maju dalam perekonomiannya, sehingga lambat laun suku yaman mengalami kemajuan yang pesat dalam perekonomian disebabkan eratnya hubungan perdagangan di kedua belah pihak, disisi lain dengan majunya perekonomian suku yaman berdampak pada kemajuan bidang social budaya akibat akulturasi dua kebudayaan.
Ketika kemajuan ekonomi social dan budaya diperoleh suku yaman suatu saat hubungan kerjasama dengan mesir mengalami kemunduran dan berakhir pada putusnya hubungan diplomasi antara kedua belah pihak. Sehingga suku yaman mengalihkan hubungan diplomasi dan perdangangannya dengan negeri syam, dan jalur perjalanan menuju syam ini harus melewati kota mekkah yang dikuasai oleh suku adnan. Karena seringnya suku yaman melewati mekkah dan singgah di kota tersebut maka terjadilah akulturasi kebudayaan diantara kedua suku tersebut, dimana suku adnan memiliki keuntungan yang lebih besar dibandingkan dengan suku adnan baik di bidang ekonomi, social maupun budaya, maka lambat laun suku adnan mengalami kemajuan yang pesat di berbagai bidang.
Kota mekkah merupakan tempat singgah yang strategis bagi para musafir dan pedagang di seluruh hijaz, karena mekkah merupakan suatu wilayah yang subur dan terdapat didalamya air zam zam yang menjadi sumber mata air abadi yang tidak akan pernah surut dan menjadi sumber kehidupan manusia diantaranya para pengembara dan pedagang, senada dengan firman ALLAH :
لايلف قريش, الفهم رحلة الشتاءوالصيف, فليعبدوا رب هذالبيت, الذي اطعمهم من جوع وامنهم من خوف.
Setelah terjadinya akulturasi kebudayaan diwilayah kota mekkah dan bahasa arab quraish menjadi bahasa tidak resmi pada masa tersebut, pada akhirnya dalam kurun waktu antara satu setengah sampai dua abad bahasa Arab Quraisy memenuhi syarat untuk diterima sebagai bahasa persatuan seluruh Hejaz karena memenuhi beberapa persyaratan, diantaranya adalah :
1. Mapan pada bidang ekonomi : suku arab quraish menjadi pengatur pembagian air zam zam di wilayah mekkah.
2. Suku arab quraish memiliki kebudayaan yang tinggi dan mulia
3. Suku quraisy memiliki dialek yang lebih baik dan lengkap daripada suku lain
Momentum yang dapat dipahami dari hal tersebut diatas adalah superior dan kemenangan dialek dan bahasa quraisy dibandingkan suku-suku lain sebagai persiapan turunnya Al-Qur’an.
PERKEMBANGAN MAKNA KATA "ADAB"
Pada masa jahiliyah kata adab memiliki dua makna yang berbeda, makna pertama adalah rampatan atau hidangan makan, hal ini sesuai dengan syair arab :
نحن في المشتا ت ندعو الجفلي # لا نري الأدب مناّ يفتقر
“Kami pada musim paceklik mengundang makan para tamu. Tidak terlihat dari kamiyang menjadi fakir karena menjamu tamu”.
Makna kedua adalah tata karma hal ini terlihat dari ungkapan Hindun binti Utbah, Ibu dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan ketika menjawab lamaran Abu Sufyan :
سأ خذه بأدب البعل وبقلّة التلفت
“Akan kuterima dia dengan sikap tata karma dan penuh kesetiaan”
Dalam perkembangannya makna kata berarti pendidikan dan ilmu pengetahuan, namun makna tatakrama masih diberlakukan tetapi digunakan dalam bentuk majaz isti’arah (kiasan), seperti hadits rosul :
انّ هذا القران مأدبة الله في الأ رض فتعلموا من مأدبته
“Sesungguhnya Al-Qur’an ini adalah suguhan/jamuan ALLAH di bumi, maka belajarlah kamu dari rampatanNya”
Sedangkan adab yang berarti pendidikan sesuai dengan sabda Rosul :
أدبني ربي فأحسن تأديبي
Pada abad 9 M kata adab mulai dipergunakan dalam makna sastra dengan diiringi makna ilmu pengetahuan, pendidikan, dan tata karma. Pada masa tersebut putra khalifah digelari al-adib yang mengandung makna sastrawan, berilmu dan berakhlaq mulia. Dan para ulama’ masa itu bersepakat memaknai kata adab dengan :
"كلا م جميل ممتع متفق"
“Tuturan yang indah, menyenangkan, dan member pendidikan dan pengetahuan”
Pada masa baru ini konsep kata “Adab” mengalami banyak perkembangan antara lain dimaknai sebagai kebudayaan, civilisasi, atau kat arab lain tamaddun, adapula yang memaknai satra sebagai suatu karya kreatifitas seni.
PERIODISASI KESUSASTRAAN ARAB
Tidak terdapat bukti otentik yang menyebutkan Periode pra Islam atau 'ashrul Jahili, dimulai pada satu setengah sampai dua abad sebelum Islam, karena pada masa itu bangsa arab belum mengenal lambing bunyi المعلقا ت و المهذبا ت mereka menuliskan karya-karya syairnya pada lempengan-lempengan besi atau emas yang kemudian digantungkan disekitar ka’bah.
Secara geografis arab merupakan tanah yang panas dan gersang hal ini terjadi setelah terjadinya banjir pada masa nabi Nuh yang menutupi seluruh permukaan jazirah arab dengan pasir, yang akibatnya membuat tanah arab menjadi panas dan gersang. Untuk itulah sebagian besar mata pencaharian bangsa arab adalah menggembala hewan ternak dan berdagang keluar kota, pada musim dingin mereka pergi ke syam dan pada musim panas mereka pergi ke yaman. Pengaruh dari tanah yang pansa dan gersang adalah perilaku orang arab yang keras dan kasar, sehingga tema-tema kebahasaan yang mereka angkat umumnya adalah tema naturalis, percintaan, khamr disamping ruet dalam kebahasaan dan pujian-pujian terhadap wanita yang berakhir pada puisi-puisi porno (المجا نية (.
Dominasi puisi adalah salah satu ciri kesusastraan Arab pada periode pra islam, hal ini disebabkan fitrah kepenyairan bangsa arab yang menonjol dan puisi adalah cara berbahasa yang paling padat dan singkat, sementara pada masa itu peluang untuk menulis sedikit dan ketrampilan menuliskan lambing bunyi serta sarana prasarana masih sangat langka.
Meski pada masa jahiliah tema puisi yang diangkat kebanyakan adalah tema pornografi, khamr dan percintaan, namun masih ada beberapa ada penyair yang berbicara tentang ketuhanan dan aqidah diantaranya adalah Zuhair bin Abi Sulma, beliau dilahirkan di wilayah Nejed, ayahnya Abi Sulma adalah keturunan kabilah mudlar, sedangkan ibunya keturunan Fihr bin Murrah dari suku Ghothfan. Nama-nama Mudlor, Fihr, Murrah disebutkan dalam silsilah Muhammad Rosulullah SAW. Zuhair berasal dari keluarga berada dan kaya juga merupakan keluarga penyair.
Contoh bait puisi Zuhair bin Abi Sulma adalah sebagai berikut :
معلقة زهير بن أبي سلمي
فلا تكتمنّ الله ما في نفو سكم # ليخفي و مهما يكتم الله فينكم
يؤخر فيوضع في كتا ب فيدخر # ليوم الحسا ب أ يعجل فينقم
Di masa pra Islam juga lahir seorang penyair wanita yang tercatat dalam sejarah sebagai "penyair muhadlromain" atau penyair dua zaman dia adalah khonsa yang mempunyai empat orang anak yang menjadi syuhada’ ketika membela agama ALLAH, salah satu bait puisinya adalah :
الحمد لله الذي أما ت أولادي...
Khonsa disebut Udaba’ muhadlromain karena di adal penyair dua zaman yakni periode pra islam dan shadrul islam.
Pada dasarnya kesusastraan Arab masa Jahili ditandai dengan dominasi puisi, namun juga terdapat karya-karya yang lain yang berbentuk prosa, kesusastraan arab jahili membedakan puisi dan prosa dengan ikatan rima (sajak) dan irama (wazn) yang absolute pada puisi, sementara prosa tidak mempunyai ikatan tersebut. Sedangkan pada kesusastraan baru puisi berbeda dengan prosa karena puisi memiliki kepadatan dan symbol-simbol, asosiasi, dan makna konotasi, sementara rima dan irama masih tetap dipertahankan dalam batas yang tidak monoton; sedangkan prosa baru adalah bahasa berurai yang tidak banyak memiliki symbol atau kata bermakna konotasi.
Bentuk prosa lirik, yaitu bahasa berurai tetapi bersajak dan berirama, pada umumnya terdapat pada karya sastra lama yang banyak dijumpai pada madaih nabawiyyah atau pujian kepada rosulullah.

PERKEMBANGAN SASTRA PADA MASA ROSULULLAH
Pada masa Rasulullah SAW, karya sastra tertinggi pada masa itu adalah Al-Qur’an dan Hadits. Dari segi kaidah kebahasaan, Al-qur’an memiliki aturan-aturan terutama di bidang fonologis, morfologis, dan sintaksis yang sangat valid dan solid. Hal ini berdampak pada segi bahasa dan keilmuan. Salah satunya pengaruhnya dalam bidang sastra.
Al-qur’an berbentuk prosa, hal ini mengakibatkan orang-orang pada masa itu sudah tidak lagi peduli pada puisi. Hal tersebut dikarenakan pesona prosa lebih kuat daripada pesona puisi. Landasan yang memperkuat pernyataan ini adalah QS. Asy-Syu’ara
Di samping itu, Al-qur’an juga telah mengubah tema kesusastraan pada masa ini, dari yang dulunya beraliran naturalis-realis yang berisi pujian yang berlebihan terhadap wanita (porno), hujatan dan ratapan berganti menjadi puji-pujian terhadap Rasul dan orang-orang sholeh dan tidak ada puisi ratapan lagi.
Pada masa ini khutbah juga telah mulai populer, Pada periode ini kedudukan syair mulai tergantikan oleh khutbah dikarenakan beberapa hal, antara lain :
1. Semangat untuk menyebarkan cahaya islam dengan dakwah dan jihad.
2. Pengaruh Al-Qur’an dan Hadits terhadap kefasihan sastra arab.
3. Berkembangnya diskusi antar masyarakat dalam berbagai pembahasan baik sosial-politik pendidikan dan sebagainya.
4. Penjelasan kebijakan politik dan hukum para khalifah.
Pada periode ini Kegiatan surat menyurat mulai berkembang dalam rangka dakwah islamiyah, pengaturan hukum dan kebijakan politik pemerintahan islam serta penulisan piagam perdamaian antar negeri. Sebagai contohnya adalah Surat Rasulullah kepada Khalid bin Walid.
Semenjak Allah memerintahkan Beliau untuk berdakwah kejalan Allah, Beliau begitu bersungguh-sungguh dalam upaya menyebarkan cahaya Islam dan mengajak manusia kembali kepada tauhid. Beliau tak pernah lelah dalam mendakwahi manusia kejalan Allah dengan penuh kebijaksanaan, nasihat yang baik dan akhlak yang terpuji.
Diantara kabilah Arab yang didakwahi oleh Beliau adalah kabilah Bani Al-Harits bin Ka’b, Beliau pun mengutus Khalid bin Walid untuk mengajak mereka kepada Islam. Sampai akhirnya Khalid bin Walid mengirimkan surat kepada Rasulullah bahwa kabilah tersebut menerima dakwah Islam. Rasulullah membalas surat tersebut memerintahkan Khalid bin Walid untuk kembali bersama utusan dari mereka untuk pembelajaran tentang keislaman Dalam suratnya Beliau berkata :
بـسم الله الرحمن الرحيم : من محمد النبي رسول الله إلى خالد بن الوليد , سلام عليك , فإ ني أحمد إليك الله الذي لا إله إلا هو.
أما بعد : فإن كتابك جاءني مع رسو لك تخبر أن بني الحارث بن كعب قد أسلموا قبل أن تقاتلهم , وأجابوا إلى ما دعوتهم إليه من الإسلام , وشهدوا أن لا إله إلا الله , وأن محمدا عبدالله ورسوله , فبشرهم وأنذرهم , وأقبل واليقبل معك وفدهم , والسلام عليكم ورحمةالله وبركاته
“Dengan menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dari Muhammad sang Nabi utusan Allah, semoga keselamatan selalu bersamamu, Aku panjatkan puji kepada Allah untukmu. Amma ba’du : Telah sampai kepadaku surat yang engkau kirimkan bersama utusanmu, menjelaskan bahwa kabilah Bani Al-Harits bin Ka’b telah masuk islam dengan damai tanpai terjadi pertempuran, mereka telah mengikuti apa-apa yang engkau dakwahkan dari Agama ini, mereka bersaksi bahwa tiada Ilah yang berhak disembah melainkan Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Allah, maka berilah kabar gembira atas keislaman mereka dan berilah mereka peringatan, dan kembalilah engkau wahai Khalid bersama utusan dari kabilah tersebut. Semoga keselamatan, rahmat serta barakah senantiasa Allah limpahkan kepadamu.”
Sesungguhnya Agama yang mulia ini senantiasa menyeru kepada kebaikan dan keutamaan dan selalu mencegah suatu yang hina. Oleh karena itu Islam akan selalu bersikap kagum terhadap syair-syair yang berisikan kebenaran dan akhlak yang mulia, Rasulullah pernah bersabda (( Sesungguhnya didalam syair terdapat hikmah )), Rasulullah juga pernah meminta Hassan bin Sabit untuk mencela musuh-musuh islam dengan syairnya, beliau berkata (( Celakalah mereka dan Jibril bersamamu )) Rasulullah juga pernah merasa kagum dengan syair Hassan bin Sabit yang mencela kaum musyrikin dan berkata (( Hassan telah mencela dengan sangat mengena )), sebagaimana Rasulullah juga pernah memuji syair Umayyah bin Abi As-Sholt, Khonsa’ dan juga Ka’b bin Zuhair dengan Qoasidahnya “Banat Su’ad.”
Namun demikian islam memerangi syair-syair yang menghancurkan islam dan mengajak manusia kepada sesuatu yang hina dan menyebabkan kerusakan ditubuh masyarakat. Rasulullah bersabda terkait dengan syair jenis ini (( Lebih baik dada kalian dipenuhi oleh nanah daripada harus dipenuhi dengan syair yang demikian ))
Allah berfirman dalam Surat Asy-Syu’ara ayat 224-227 Yang artinya : “Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat. Tidakkah kamu melihat bahwa mereka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakannya? Dan mereka pun suka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakannya. Kecuali orang-orang (penyair-penyair) yang beriman dan beramal shaleh serta banyak menyebut Allah. Mereka pun mendapat kemenangan sesudah menderita kezaliman. Adapun orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali.
Allah juga berfirman dalam surat Ibrahim: 24-26“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit. Pohon itu memberikan buahnya pada Setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikitpun
Pada periode ini muncul jenis syair baru yaitu syair dakwah islamiyah, syair pembangkit semangat juang, syair untuk mengingat kebaikan para syuhada serta pendeskripsian alat-alat perang. Para periode ini pula jenis-jenis syair yang telah ada sejak zaman Jahiliyah semakin diperkuat dengan ruh islami. Contoh Syair Pada periode ini:
HASSAN BIN SABIT MENANTANG KAUM MUSYRIKIN SEBELUM FATHU MEKKAH.
Kaum Quraisy membuat kesepakatan damai salama sepuluh tahun dengan Nabi pada tahun ke 6 Hijriah, akan tetapi mereka mengkhianati perjanjian tersebut, maka Rasulullah pun menyiapkan bala tentara untuk memerangi kaum musyrikin Quraisy dan membuka kota Mekkah.
Pada syair berikut ini Hassan bin Sabit menggambarkan persiapan pasukan kaum muslimin dalam rangka menghadapi musuh mereka dengan memuji Rasulullah dan para sahabatnya serta mencela dan menantang musuh mereka, Ia berkata :
عـدمـنا خـيـلـنا إن لـم تروها تـثــيرالـنـقـع ـموعـدها كـدا
فــإمـا تعــرض عـنا اعتمرنا و كان الفتح وانكشف الغطاء
وإلا فــاصبـروا لـجـلاد يـوم يـعـيـن الله فـيـه مــن يــشـاء
وجـبـريـل رســول الـله فيـنا وروح الـقـدس لـيـس له كفاء
وقــال الله قـد أرسـلـت عـبدا يـقـول الـحـق إن نـفـع الـبلاء
شهـد ت بـه فـقومـوا صدقوه فــقـلـتـم لا نــقـوم ولا نـشــاء
وقــال الله قـد ســيرت جـنـدا هـم الأنـصـار عرضتها اللقاء
Kami akan musnahkan kuda-kuda kami
jika kalian tidak melihatnya menghempaskan debu menuju Kada’
Walaupun kalian menghalangi jalan kami, kami akan tetap berumroh
dan membuka kota Mekkah hingga tersingkaplah kebenaran
Namun jika kalian tetap menghalangi maka bersabarlah terhadap hari yang ganas
dan Allah selalu menolong siapa saja yang dikehendaki-Nya
Jibril Sang Utusan Allah selalu bersama kami
dan Ruhul Qudus takkan ada yang menandinginya
Allah berkata bahwa ia telah mengirimkan utusan-Nya
demi menyampaikan kebenaran bagi siapa yang membutuhkannnya
Aku disini bersaksi atas kerasulannya maka mari berdiri dan bersaksilah
namun kalian mengatakan “kami tidak akan berdiri dan tak mau bersaksi”
Allah telah berkata bahwa ia telah mengirimkan pasukan
mereka adalah kaum Anshar yang kepiawaiannya bertempur
Sumber : http://ichsanmufti.wordpress.com
Para ahli sastra menetapkan Rasulullah SAW sebagai sastrawan tertinggi di masa Shadrul islam karena mukjizat Al-qur’an dan hadist. Sedangkan peringkat kedua diduduki oleh ali bin Abi Thalib (hasan zayyad) dengankarya yang dibukukan dengan judul nahjul Balaghoh oleh Syarif Radli. Namun, pada masa Rasulullah SAW. Hadist nabi belum dibukukan karena pada masa itu masih fokus dalam pembukuan Al-qur’an, jadi takut akan adanya kerancuan dalam pembukuan keduanya.
PERKEMBANGAN SASTRA PADA MASA KHALIFAH ABU BAKAR DAN KHALIFAH UMAR
Abu bakar Ash-shiddiq dan Umar bin Khotob adalah khalifah pertama sepeninggalan Rasulullah SAW. Dalam kepemimpinannya, islam mengalami kemajuan yang sangat pesat di segala bidang. Kemajuan itu antara lain dalam bidang perluasan daerah, pengaturan kas negara dan lain-lain. Kemajuan juga tampak di bidang sastra dan ilmu pengetahuan seperti dalam hal khitobah, puisi, dan prosa.
• Khutbah
Pada periode ini kedudukan syair mulai tergantikan oleh khutbah dikarenakan beberapa hal, antara lain :
1. Semangat untuk menyebarkan cahaya islam dengan dakwah dan jihad.
2. Pengaruh Al-Qur’an dan Hadits terhadap kefasihan sastra arab.
3. Berkembangnya diskusi antar masyarakat dalam berbagai pembahasan baik sosial-politik pendidikan dan sebagainya.
4. Penjelasan kebijakan politik dan hukum para khalifah.
Contoh Khutbah Pada periode ini:
Khutbah Abu Bakar Ash-Siddiq Ketika Diangkat Sebagai Khalifah
Sesaat setelah Meninggalnya Rasulullah – Shallallahu ‘alaihi wasallam- kaum muslimin memilih Abu Bakar Radhiallahu ‘anhu sebagai pemimpin mereka karena berbagai keutamaan yang ada padanya, ia adalah lelaki pertama yang beriman kepada Rasulullah, teman beliau didalam gua tsaur dan teman setia beliau ketika berhijrah ke Mekkah, Rasulullah juga pernah memerintahkannya untuk menjadi imam menggantikan beliau ketika beliau sakit.
Ketika diangkat sebagai Khalifah beliau berkhutbah kepada sekalian kaum muslimin dengan terlebih dahulu memuji Allah dan berkata :
أيها الناس, إني قد وليت عليكم ولست بخيركم , فإن رأيتمني على حق فأعينوني , وإن رأيتموني على باطل فسددوني , أطيعوني ما أطعت الله فيكم , فإذا عصيته فلا طاعة لي عليكم , ألا إن أقواكم عندي الضعيف , حتى آخذ الحق له , و أضعفكم عندي القوي حت آخذ الحق منه.
أقول قولي هذا , و أستغفر الله لي ولكم
“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya aku sekarang telah memimpin kalian, namun aku bukanlah yang terbaik diantara kalian, jika kalian melihatku berjalan diatas kebenaran maka bantulah aku, sedangkan jika kalian melihatku diatas kebatilan maka luruskanlah langkahku, taatilah aku selama aku mentaati Allah, dan apabila aku melakukan sebuah kemaksiatan maka kalian tidak boleh taat terhadapku akan hal itu, ketahuilah… Bahwasanya orang yang paling kuat diantara kalian dimataku adalah orang yang lemah hingga ia memperoleh haknya, sebaliknya orang yang terlemah dimataku adalah orang yang kalian anggap paling kuat hingga ia mengembalikan hak-hak orang lain. Demikianlah apa yang aku sampaikan kepada kalian seraya memohon ampun atas diriku dan kalian semua kepada Allah.”
Penulisan ayat-ayat al-Qur’an sudah dimulai sejak zaman Nabi Muhammad, bahkan sejak awal diturunkannya al-Qur’an yang diwahyukan secara berangsur-angsur selama sekitar 23 tahun.
Setelah Rasulullah wafat dan Abu Bakar menjadi Khalifah, terjadi Perang Yamamah yang merenggut korban kurang lebih 70 sahabat penghafal al-Qur’an. Banyaknya sahabat yang gugur dalam peristiwa tersebut timbul kekhawatiran dikalangan sahabat khususnya Umar ibn al-Khattab akan menyebabkan hilangnya al-Qur’an. Uamar menyarankan kepada Abu Bakar dan beliau menyetujuinya. Kemudian ditunjuklah Zaid ibn Tsabit dengan berpegang pada tulisan yang tersimpan di rumah Rasulullah, hafalan dari sahabat dan naskah yang ditulis oleh para sahabat untuk dirinya sendiri.
• Perkembangan Ilmu Pengetahuan
Di beberapa wilayah perkotaan jumlah penduduknya lebih banyak dan alat-alat lebih lengkap, yang timbul dari banyaknya sumber pencaharian yang disebabkan oleh suburnya tanah atau cepatnya pertukaran barang dengan orang lain. Banyaknya penduduk diikuti dengan kemakmuran yang memungkinkan bagi mereka meluangkan waktu untuk kegiatan mencari nafkah, diikuti pula dengan meningkatnya pemikiran penduduk. Dengan demikian muncullah pendapat-pendapat, ilmu dan akan berkembang pada kesusastraan.
Lahirnya ilmu Qira’at erat kaitanya dengan membaca dan mempelajari al-Qur’an. Terdapatnya beberapa dialek bahasa dalam membaca al-Qur’an, dikawatirkan akan terjadi kesalahan dalam membaca dan memahaminya. Oleh karenanya diperlukan standarisasi bacaan dengan kaidah-kaidah tersendiri. Apalagi bahasa Arab yang tidak bersyakal tertentu menimbulkan kesulitan dalam membacanya. Untuk mempelajarinya khalifah Umar telah mengutus Muadz ibn Jabbal ke Palestina, Ibadah ibn as-Shamit ke Hims, Abu Darda’ ke Damaskus, Ubay ibn Ka’ab dan Abu Ayyub tetap di Madinah.
Menafsirkan al-Qur’an adalah keperluan dasar untuk memahami ayat-ayat, sebagaimana telah dijelaskan sendiri oleh Rasulullah baik dengan ayat-ayat al-Qur’an maupun dengan al-Hadits. Ini tahap awal dari munculnya Ilmu Tafsi. Beberapa sahabat telah mempelajari dan menafsirkan al-Qur’an sesuai dengan apa yang mereka terima dari Rasul, diantaranya: Ali ibn Abi Tholib, Abdullah ibn Abbas, Abdullah ibn Mas’ud dan Abdullah ibn Ka’ab.
Ilmu Hadist belum dikenal pada masa Khulafa al-Rasyidin tetapi pengetahuan tentang hadist tersebar luas dikalangan umat Islam. Usaha mempelajari dan menyebarkan hadist, seiring dengan kegiatan mempelajari dan menyebarkan al-Qur’an. Untuk memahami al-Qur’an tidak dapat dilepaskan dari pengetahuan tentang hadist. Beberapa sahabat yang menyebarluaskan hadist atas perintah Umar adalah Abdullah ibn mas’ud ke Kota Kuffah, Ma’kal ibn Yassar ke Basrah, Ibadah ibn Shamit dan Abu Darda’ ke Syiria.
Ilmu Nahwu lahir dan berkembang di Basrah dan Kuffah, karena di dua kota tersebut banyak bermukim kabilah Arab yang berbicara dengan bermacam dialek bahasa. Disana juga bermukim orang-orang yang berbahasa Persia. Ali bin Abi Thalib adalah pembina dan penyusun pertama dasar ilmu nahwu. Abu Aswad ad-Duali (masa Bani Umayyah) belajar kepadanya.
Khath al-Qur’an berkaitan erat dengan penulisan dan penyebaran al-Qur’an. Dalam Islam seni menulis al-Qur’an sangat dihargai, dan tidak satu aksara pun di dunia ini menjadi seni artistik yang hebat seperti aksara arab. Orang Arab belajar tulisan Nabti /Naskhi dari perdagangan keluar Syam, tulisan Kufi dari Irak.
Pertumbuhan Ilmu Fiqh tidak dapat dilepaskan dari al-Qur’an dan Hadist sebagai sumbernya, karena itu tidak mengherankan jika ahli-ahli fiqih pada umumnya terdiri dari mereka yang ahli pula yang ahli al-Quran dan sunnah atau al-Hadits. Beberapa sahabat yang mempunyai keahlian dalam bidang fiqih: Umar ibn Khatthab, Ali ibn Abi Thalib, Zaid ibn Tsabit (tinggal di Makkah), Abdullah ibn Abas (Makkah), Abdullah ibn Mas’ud (Kuffah), Anas ibn Malik (Basrah) dll.
Al-Harits ibn Kaladah yang berasal dari Thaif (w. 13 H), tercatat sebagai seorang dokter pada masa permulaan awal Islam.
• Perkembangan Sastra
Sastra adalah inti seni, bagaikan tercermin dari segala yang hidup dikalangan bangsa Arab, baik yang bersifat spiritual, politik, maupun selain keduanya. Islam terkait dan tak dapat dipidahkan dari bahasa Arab melalui al-Qur’an. Kesusteraan Arab dimulai dengan lembaran yang tak mungkin dicipta oleh manusia. Tebukti bahasa Arab merupakan bahasa yang sempurna dalam menangani topik yang sangat halus dari bentuk bahasa yang ditampilkan.
Pengamat sastra pada umumnya menyatakan ada dua pendapat tentang perkembangan sastra masa Khulafa al-Rasyidun :
1. Sastra mengalami stagnasi karena perhatian yang lebih kepada bahasa al-Qur’an, sehingga syair dan sastra kurang berkembang.
2. Al-Qur’an sebagai sumber inspirasi untuk kegiatan sastra, karena dalam berdakwah diperlukan bahasa yang indah. Pengaruh Qur’an dan Hadis tidak bisa dilepaskan karena keduanya menjadi sumber pokok ajaran Islam.
Secara khusus dijelaskan bahwa puisi pada masa tersebut tidak jauh dari puisi pada masa Rasul, yang juga tidak jauh berbeda dengan masa sebelumnya (Jahiliyah). Maksudnya bahwa puisi kurang majudan berkembang kerena lebih memperhatikan al-Qur’an, sehingga aroma struktural kata dalam puisi sangat terpengaruh oleh al-Qur’an. Prosa tertuang dalam 2 bentuk yaitu Khithabah ( bahasa pidato) dan kitabah (bahasa korespondensi). Khithabah menjadi alat yang paling efektif untuk berdakwah mengalami kesempurnaannya karena pengaruh al-Qur’an. Ruhnya khitabah adalah Rasul dan para khalifah, mereka adalah pemimpin yang sekaligus sastrawan, mereka sangat baligh dan fasih dalam berkhotbah. Ahli pidato yang sangat terkenal adalah Ali ibn Abi Thalib, khutbahnya dikumpulkan dalam kitab ”Nahj al-Balaghah” Tentang Kitabah tidak mengalami kemajuan sepesat khithabah meskipun di dalamnya banyak didapatkan nilai-nilai sastra.
Para penyair dua masa yaitu pra Islam dan masa Islam disebut Mukhadhram”, seperti Hasan ibn Tsabit dan Kaab ibn Zuhair. Hasan ibn Tsabir adalah penyair rumah tangga Rasul, ia selalu mengubah syair-syair untuk membela Islam dan memuliakan Rasulnya.
PERKEMBANGAN SASTRA PADA MASA BANI UMAYYAH
1. Asal Mula Bani Umayyah
Bani Umayyah diambil dari nama Umayyah, kakeknya Abu Sofyan bin Harb, atau moyangnya Muawiyah bin Abi Sofyan. Umayyah hidup pada masa sebelum Islam, ia termasuk bangsa Quraisy. Daulah Bani Umayyah didirikan oleh Muawiyah bin Abi Sufyan dengan pusat pemerintahannya di Damaskus dan berlangsung selama 90 tahun (41 – 132 H / 661 – 750 M).
Muawiyah bin Abi Sufyan sudha terkenal siasat dan tipu muslihatnya yang licik, dia adalah kepala angkatan perang yang mula-mula mengatur angkatan laut, dan ia pernah dijadikan sebagai amir “Al-Bahar”. Ia mempunyai sifat panjang akal, cerdik cendekia lagi bijaksana, luas ilmu dan siasatnya terutama dalam urusan dunia, ia juga pandai mengatur pekerjaan dan ahli hikmah.
Muawiyah bin Abi Sufyan dalm membangun Daulah Bani Umayyah menggunakan politik tipu daya, meskipun pekerjaan itu bertentangan dengan ajaran Islam. Ia tidak gentar melakukan kejahatan. Pembunuhan adalah cara biasa,asal maksud dan tujuannya tercapai.
Daulah Bani Umayyah yang berpusat di Damaskus, telah diperintah oleh 14 orang kholifah. Namun diantara kholifah-kholifah tersebut, yang paling menonjol adalah : Kholifah Muawiyah bin Abi Sufyan, Abdul Malik bin Marwan, Walid bin Abdul Malik, Umar bin Abdul Aziz dan Hisyam bin Abdul Malik.
2. Peta Daerah Perkembangan Islam Pada Masa Kejayaan Bani Umayyah
Dalam upaya perluasan daerah kekuasaan Islam pada masa Bani Umayyah, Muawiyah selalu mengerahkan segala kekuatan yang dimilikinya untuk merebut kekuasaan di luar Jazirah Arab, antara lain upayanya untuk terus merebut kota Konstantinopel. Ada tiga hal yang menyebabakan Muawiyah terus berusaha merebut Byzantium. Pertama, karena kota tersebut adalah merupakan basis kekuatan Kristen Ortodoks, yang pengaruhnya dapat membahayakan perkembangan Islam. Kedua, orang-orang Byzantium sering melakukan pemberontakan ke daerah Islam. Ketgia, Byzantium termasuk wilayah yang memiliki kekayaan yang melimpah.
Pada waktu Bani Umayyah berkuasa, daerah Islam membentang ke berbagai negara yang berada di benua Asia dan Eropa. Dinasti Umayyah, juga terus memperluas peta kekuasannya ke daerah Afrika Utara pada masa Kholifah Walid bin Abdul Malik , dengan mengutus panglimanya Musa bin Nushair yang kemudian ia diangkat sebagai gubernurnya. Musa juga mengutus Thariq bin Ziyad untuk merebut daerah Andalusia.
Keberhasilan Thariq memasuki Andalusia, membuta peta perjalanan sejarah baru bagi kekuasaan Islam. Sebab, satu persatu wilayah yang dilewati Thariq dapat dengan mudah ditaklukan, seperti kota Cordova, Granada dan Toledo. Sehingga, Islam dapat tersebar dan menjadi agama panutan bagi penduduknya. Tidak hanya itu, Islam menjadi sebuah agama yang mampu memberikan motifasi para pemeluknya untuk mengembangkan diri dalam berbagai bidang kehidupan social, politik, ekonomi, budaya dan sebaginya. Andalusia pun mencapai kejayaan pada masa pemerintahan Islam.
3. Kemajuan dan Keunggulan Bani Umayyah
Di masa Bani Umayyah ini, kebudayaan mengalami perkembangan dari pada masa sebelumnya. Di antara kebudayaan Islam yang mengalami perkembangan pada masa ini adalah seni sastra, seni rupa, seni suara, seni bangunan, seni ukir, dan sebaginya.
Pada masa ini telah banyak bangunan hasil rekayasa umat Islam dengan mengambil pola Romawi, Persia dan Arab. Contohnya adalah bangunan masjid Damaskus yang dibangun pada masa pemerintahan Walid bin Abdul Malik, dan juga masjid Agung Cordova yang terbuat dari batu pualam.
Seni sastra berkembang dengan pesatnya, hingga mampu menerobos ke dalam jiwa manusia dan berkedudukan tinggi di dalam masyarakat dan negara. Sehingga syair yang muncul senantiasa sering menonjol dari sastranya, disamping isinya yang bermutu tinggi.
Dalam seni suara yang berkembang adalah seni baca Al-Qur’an, qasidah, musik dan lagu-lagu yang bernafaskan cinta. Sehingga pada saat itu bermunculan seniman dan qori’/ qori’ah ternama.
Perkembangan seni ukir yang paling menonjol adalah penggunaan khot Arab sebagai motif ukiran atau pahatan. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya dinding masjid dan tembok-tembok istana yang diukur dengan khat Arab. Salah satunya yang masih tertinggal adalah ukiran dinding Qushair Amrah (Istana Mungil Amrah), istana musim panas di daerah pegunungan yang terletak lebih kurang 50 mil sebelah Timur Amman.
Dalam bidang ilmu pengetahuan, perkembangan tidak hanya meliputi ilmu pengetahuan agama saja, tetapi juga ilmu pengetahuan umum, seperti ilmu kedokteran, filsafat, astronomi, ilmu pasti, ilmu bumi, sejarah, dan lain-lain.
Pada ini juga, politik telah mengaami kamajuan dan perubahan, sehingga lebih teratur dibandingkan dengan masa sebelumnya, terutama dalam hal Khilafah (kepemimpinan), dibentuknya Al-Kitabah (Sekretariat Negara), Al-Hijabah (Ajudan), Organisasi Keuangan, Organisasi Keahakiman dan Organisasi Tata Usaha Negara.
Kekuatan militer pada masa Bani Umayyah jauh lebh berkembang dari masa sebelumnya, sebab diberlakukan Undang-Undang Wajib Militer (Nizhamut Tajnidil Ijbary). Sedangkan pada masa sebelumnya, yakni masa Khulafaurrasyidin, tentara adalah merupakan pasukan sukarela. Politik ketentaraan Bani Umayyah adalah politik Arab, dimana tentara harus dari orang Arab sendiri atau dari unsure Arab.
Pada masa ini juga, telah dibangun Armada Islam yang hampir sempurna hingga mencapai 17.000 kapal yang dengan mudah dapat menaklukan Pulau Rhodus dengan panglimanya Laksamana Aqabah bin Amir. Disamping itu Muawiyah juga telah membentuk “Armada Musin Panas dan Armada Musim Dingin”, sehingga memungkinkannya untuk bertempur dalam segala musim.
Dalam bidang social budaya, kholifah pada masa Bani Umayyah juga telah banyak memberikan kontribusi yang cukup besar. Yakni, dengan dibangunnya rumah sakit (mustasyfayat) di setiap kota yang pertama oleh Kholifah Walid bin Abdul Malik. Saat itu juga dibangun rumah singgah bagi anak-anak yatim piatu yang ditinggal oleh orang tua mereka akibat perang. Bahkan orang tua yang sudah tidak mampu pun dipelihara di rumah-rumah tersebut. Sehingga usaha-usaha tersebut menimbulkan simpati yang cukup tinggi dari kalangan non-Islam, yang pada akhirnya mereka berbondong-bondong memeluk Islam.

Tidak ada komentar:

Mau Tukar Link? Copy/paste code HTML berikut ke blog anda

Teknologi,sastra, religius,tips trik